Kabar

Mati Suri 40 Tahun, Festival Inerie Bangkitkan Jedho Leke

Permainan tradisional tak lagi dipandang menarik. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota-kota metropolitan. Anak-anak di desa yang jauh dari hiruk-pikuk modernitas pun banyak yang tak lagi tahu cara orangtua mereka bersenang-senang sewaktu kecil.

Maria Ermelinda Moi, Sekretaris Pusat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Rakalaba, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengatakan kesadaran untuk menghidupkan kembali permainan anak tradisional itulah yang coba diangkatnya selama Festival Inerie 2019. Salah satunya melalui Jedho Leke (main leke), permainan anak tradisional menggunakan balang (sejenis biji buah yang besar berwarna cokelat kemerahan) atau batuan.

Jedho leke, tutur pegiat budaya yang akrab disapa Mama Linda itu, dulu sangat populer di kalangan perempuan dari anak-anak sampai remaja. Cara bermainnya dengan menjepit balang atau batu dan berusaha melemparnya ke batu inti yang sudah diletakkan di sudut tertentu. Biasanya lokasi bidik diberi garis batas. Pemain yang jalan duluan ditentukan dengan sistem undi, misalnya lewat suit.

Permainan dimulai dengan meletakkan batu atau balang di atas telapak kaki. Jika batu yang dilempar mengenai batu inti di gawang yang berjarak dua meter dari titik mulai, peserta dapat terus bermain. Jika bidikannya meleset, pemain harus diganti. Untuk memenangkan permainan, aturan dibuat sesuai kesepakatan. Terkadang pemain tidak harus melempar leke dari jarak sejauh itu. Pemain sambil tetap membawa leke pada bagian tubuh tertentu dapat melompat sampai jarak yang ditentukan, baru kemudian melempar leke ke sasaran.

“Dulu kami memainkannya sebagai proses pendewasaan, yang digambarkan melalui 13 tahap bermain,” ujar Mama Linda. Tahap pertama gepe watu atau mo’o, yakni menjepit balang atau batu ceper di telapak kaki. Jika berhasil mengenai sasaran, pemain naik ke tahap selanjutnya, yaitu ngawi (leke dijepit di antara ibu jari kaki dan jari telunjuk).

Ketiga, dhajo (leke dijepit di punggung kaki). Keempat, leke kezu (leke yang ditaruh di mata kaki). Kelima, dego meze (leke dijepit di betis besar). Keenam, gape (leke dijepit antara paha dan betis). Tingkat kesulitan semakin tinggi, dengan leke dijepit di pa’a (paha), diletakkan di kasa (dada), naik ke wigu (bahu), pelipis, mata, dan terakhir taruh di ulu (kepala). Sampai di kepala, balang lantas kembali ke antara jari kaki untuk di-sidhur (menghentakan balang untuk mengenai sasaran dengan jari kaki).

Tentu saja dari satu tahap ke tahap berikutnya, balang dipindahkan dengan tangan, bukan dilempar. Kendati begitu, untuk mengenai sasaran dengan mengapit balang atau melontarkannya dari bagian tubuh tertentu bisa jadi permainan yang menantang, bukan?

“Sekarang kurang lebih sudah 40 tahun tidak ada lagi yang mainkan, mati suri,” ujarnya saat ditemui Indonesiana usai acara “Temu Kopi Bajawa” di Kecamatan Golewa, Senin, 8 Juli 2019.

Permainan lain yang tak kalah seru adalah sagu alu atau lompat bambu, yang kini sudah diadaptasi menjadi tarian. Jika selama ini tari lompat bambu itu dikenal sebagai tari simbolis menang perang, di Rakalaba justru menjadi kesenian yang romantis.

Tari Sagu Alu di sini menceritakan tentang para remaja yang sedang kasmaran. Ketika anak-anak beranjak remaja, mereka bisa menarikan lompat bambu untuk mencari jodohnya. Karena itu, pemain yang melompati bambu biasanya sepasang. Pemain melompat berbarengan untuk menemukan irama mereka. Jika cocok, ada chemistry, mereka bisa menjadi kekasih.

Dalam pertunjukan di Rakalaba, tarian ini dibawakan 16 remaja, sepuluh di antaranya perempuan. Mengenakan baju adat kain tenun ikat motif kuda, empat anak bertatap muka dengan empat anak lain bersila di atas rumput memegang sepasang bambu. Tugas merekalah untuk mengadu bambu sebagai lambang rintangan bagi pasangan yang akan melompat. Sementara empat pasang pemain yang bersiap melompat mulai berbaris berhadapan di salah satu ujung arena bambu.

Gerak Tari Sagu Alu terdiri atas enam ragam. Putaran pertama sebagai tahap pengenalan. Kedua sampai kelima tahap pendekatan dengan tempo tepuk bambu ditingkatkan setiap ganti putaran.

Pada level yang lebih sulit, aduan bambu tidak hanya merintangi kaki, tetapi juga kepala. Pasangan penari harus lolos ujian ini untuk berjodoh. Ragam enam menjadi tanda bagi pasangan yang merasa berjodoh (niu zia atau selevel) untuk bersatu. Perempuan mengangkat bere (tas slempang) dan laki-laki mengangkat parang. Mereka kemudian beradu kaki dalam gerak menyilang, seperti tos. Orang Ngada menyebut ragam keenam ini gerak tari Lea Nore.

Selain jedho leke dan kadhi sagu alu, masih banyak lagi permainan tradisional di Tanah Bajawa yang asyik untuk dijalankan bersama teman-teman. Mayoritas permainan memanfaatkan media bambu, seperti kibha, lembing bambu, tolak galah, bela diri dengan bambu, tuso atau repa (bedil-bedilan), dan meriam bambu. (SD)

Menu