Kabar

Marselina Walu, Q Grader Perempuan Pertama dari Kalangan Petani

Bertani kopi merupakan mata pencaharian utama masyarakat di tiga kecamatan di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yakni di Bajawa, Golewa, dan Golewa Barat. Tidak hanya laki-laki yang turun tangan menggarap kebun, para perempuan juga terbiasa mengerjakan.

Marselina Walu, salah seorang perempuan yang menggantungkan hidupnya dari bertani kopi di Desa Radabata, Kecamatan Golewa. Ditemui saat acara “Temu Kopi Bajawa” dalam Festival Inerie di Desa Rakalaba, Senin 8 Juli 2019, Ketua koperasi Primer Kaghomasa itu menuturkan suka-dukanya menjadi petani kopi hingga dinobatkan sebagai perempuan pertama di dunia dari kalangan petani yang mendapatkan sertifikasi Q Grader (ahli cita rasa/penguji mutu kopi bersertifikat internasional).

“Kalau ditanya cita-cita, sebenarnya saya tidak pernah bercita-cita menjadi petani, tapi orangtua tak mampu sekolahkan saya sampai perguruan tinggi,” ujar ibu satu anak yang bercita-cita jadi akuntan tersebut.

Pada 1995, ayahnya menghibahkan 0,5 hektar tanah sebagai permintaan maaf karena tidak bisa menguliahkan anak kelima dari enam bersaudara itu. Pesannya satu, “Silakan kau mau kelola jadi apa saja tanah ini, yang penting jangan kau jual.”

Berbekal sebidang tanah, Marselina mulai bercocok tanam ubi talas. Namun bertani saja tak membuatnya puas. Alumni SMAN Komodo di Labuan Bajo itu lantas merantau ke Larantuka, Flores, sampai Nusa Tenggara Barat. Selama dua tahun ia menjadi agen asuransi Jiwasraya, sebelum mengundurkan diri karena merasa jerih payahnya tidak sepadan dengan komisi yang diperoleh.

Tak lama berselang, Marselina mendengar perusahaan budidaya mutiara milik Jepang, PT NTT Kuri Pearl, sedang membutuhkan petugas keamanan. “Saya masih muda waktu itu, masih gadis, badan saya besar dan tegap. Jadi saya rasa pekerjaan itu cocok, saya pun melamar.” Marselina menyukai pekerjaannya di perusahaan asing tersebut. Penghasilannya juga lebih baik. Tapi sekali lagi ia tak kuasa bertahan.

“Waktu itu ada kasus besar,” tuturnya. Sejumlah mutiara hilang. Kerugiannya ditaksir mencapai Rp2,5 miliar. Seorang satpam pria diduga bertanggung jawab atas pencurian tersebut. Dampaknya berimbas ke seluruh penjaga, termasuk Marselina Walu.

Setiap hari selama beberapa pekan, ia bolak-balik ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. “Keluarga waktu itu sangat khawatir. Mereka bilang keluar saja. Tak usah lagi kerja di situ, terlalu besar risikonya.”

Dua tahun menjadi satpam, Marselina akhirnya pulang ke kampung halaman. Ia memikirkan lahan warisan orangtuanya. “Sebaiknya diapakan, ya?” Tanam ubi tak menghasilkan. Cuaca dingin yang ekstrem di Bajawa sering membuat ubi rusak. Kebanyakan tetangga menanam sayur-mayur. Sementara orangtua menyarankan tanam kopi paling baik di tanah Bajawa, mengingat letaknya di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.

Mendengar saran orangtuanya, Marselina awalnya sangat ragu. Dulu, katanya, harga kopi ditentukan oleh pembeli. “Setiap penjual buka harga, pembeli akan tawar sampai rendah sekali. “Budaya kami, membawa pulang barang dagangan itu tidak bagus, memalukan. Jadi berapa pun ditawar, kami terima,” kenangnya.

Menangis merasa ditipu

Tahun 2007, ketika pemerintah mengadakan program perluasan lahan kopi arabika, Marselina mendapatkan keyakinan bahwa meneruskan usaha keluarga menanam kopi adalah jalan hidup yang harus ia tempuh. Ia pun bergerak aktif mengikuti berbagai komunitas tani atau unit pengolah hasil (UPH), mengikuti saran dari pemerintah untuk menanam pohon penaung kopi, dan bergabung dalam koperasi.

Produksi kopi pun meningkat, puncaknya pada 2013-2015. Untuk promosi, sejumlah sampel dikirimkan. Gratis. Namun hasilnya di luar perkiraan. “Ratusan kilo sampel kami kirim, tak satu pun membuahkan hasil.”

Setiap kali tengkulak entah dari Jakarta, Medan, maupun Bandung mencicipi, kopinya selalu dianggap kurang bagus. Penilaian pun selalu berbeda. Ada yang bilang kopinya terlalu asam, ada yang bilang kurang nikmat, dan sebagainya. Padahal, jenis kopi yang dikirim selalu sama. Jika ada yang jadi membeli, harganya pun sangat rendah, antara Rp 16.000-30.000 per kilogram.

“Saat itu saya berpikir, tidak bisa terus seperti ini. Kami kehilangan sangat banyak. Kami merasa tertipu,” tukasnya. Marselina lantas bertekad harus tahu seperti apa kopi yang enak itu sebenarnya. Ia bertanya ke sejumlah LSM pemerhati kopi Bajawa, dan dikenalkan pada VECO Indonesia (sekarang Rikolto).

VECO adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional yang mendukung program pengembangan rantai pertanian yang berkelanjutan bagi petani kecil untuk meningkatkan akses ke pasar. LSM yang berkantor pusat di Leuven, Belgia, ini juga memberikan pendampingan untuk petani yang ingin meningkatkan pengetahuan dan kemampuan di bidangnya.

VECO kemudian memfasilitasi Marselina Walu dan kawan-kawan untuk menghasilkan kopi arabika yang berkualitas. Pelatihan berlangsung berbulan-bulan di lapangan, diajarkan cara menanam yang baik, memprosesnya sampai panen, dan dihidangkan dengan teknik modern.

Mereka juga dibawa ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Kebun Renteng Jenggawah, Jember, Jawa Timur. Sewaktu dibawa pelatihan magang itu, Marselina baru tahu bahwa kopi adalah komoditas kedua di dunia yang paling sering diperdagangkan setelah minyak mentah. Bahkan harga jual kopi mengungguli harga gas alam dan emas. “Saat mendengar presentasi itu, saya menangis. Berarti kami sudah lama dirugikan. Seharusnya orangtua saya bisa kuliahkan saya meski hanya bertani kopi.”

Di antara sekian banyak yang ikut program pelatihan VECO, perempuan yang akrab disapa Mama Lina ini kemudian dilihat paling cepat menyerap pelajaran. Ia pun direkomendasikan mengikuti ujian Q Grader pada 2015.

Ujian pertamanya berlangsung di Jakarta selama dua pekan. Ada 20 materi yang diujikan, meliputi tes tertulis yang berisi 1.000 pertanyaan umum tentang kopi dari penanaman sampai penyeduhan, coffee grading, sample roast identification, olfactory skill, sensory skill, cupping skill, triangulation, dan organic acid matching pair.

“Susah sekali ujiannya. Banyak yang tidak lulus, terutama di tahap penciuman aroma,” ujarnya. Marselina termasuk di antara yang gagal ujian. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas, dan sangat bergantung pada penjelasan dari penerjemah, ia hanya lolos 15 materi. Setahun kemudian VECO kembali mensponsori Mama Lina untuk tes ulang (retake).

Kali ini ujian berlangsung di 5758 Coffee Lab Bandung, dan Marselina lulus. Saat sertifikat diberikan, Marselina mendapatkan sanjungan karena ia adalah perempuan pertama di dunia dari kalangan petani yang menjadi penguji mutu kopi (Q Grader) berlisensi internasional.

Pada 24 September 2018 Marselina telah mengikuti kalibrasi untuk memperpanjang lisensi Q Grader miliknya. Dengan kata lain, ia kini tengah memasuki tahun kedua profesinya sebagai penguji mutu kopi berlisensi. Sejak Juni 2016, ia juga tercatat sebagai staf quality control manager di MTC Group-Specialty Green Coffee Traders untuk cabang Bajawa, Flores, Ende, dan sekarang menduduki jabatan Laboratory Manager.

Tantangan kopi Bajawa

Sebagai orangtua tunggal dari anak semata wayangnya yang kini berusia 13 tahun, Mama Lina begitu ulet menekuni bisnis kopi arabika ini. Ia juga tak pelit membagikan ilmunya kepada rekan sesama petani. Untuk generasi muda, Marselina menyiapkan program Cupping Bersama untuk menumbuhkan minat pemuda-pemudi Ngada mendalami bisnis kopi. Bukan cuma tahu bertani, tetapi bisa juga jadi barista dan membuka usaha kopi sendiri.

Kopi arabika Flores, khususnya Bajawa yang kini sudah jadi primadona, menyenangkan hatinya. Sekarang banyak orang mencari, tidak hanya di dalam negeri, tapi mancanegara. Kopi Bajawa sudah diekspor ke Amerika Serikat, Australia, Hong Kong, Selandia Baru, dan Timor Leste. “Kalau tahu Sweet Maria’s Home Coffee Roasting di Oakland, California, itu pelanggan tetap kami. Mereka suka sekali aroma floral (bunga) kopi produksi Golewa.” Harga kopi Bajawa juga cukup tinggi dibandingkan dulu, mulai Rp110.000 per kilogram.

Kendati demikian, besarnya permintaan pasar juga mengkhawatirkan. “Mutu bisa diacak,” istilah Mama Lina. Ia menjelaskan, banyaknya pembeli seringkali mendesak petani panen sebelum waktunya.

Panen kopi lazimnya antara Juni-Juli. Menunggu proses pengeringan, fermentasi, sampai jadi biji kopi siap saji atau kopi bubuk, bulan Oktober para petani baru siap menjual. Sayangnya, kadang pembeli yang tidak terlalu peduli pada mutu berani membayar di muka asal barangnya ada. Petani yang sangat membutuhkan uang pasti tergoda dan akhirnya bersedia menjual kopi tanpa mengikuti standar operasional produksi.

“Teman sesama petani juga kadang tidak sabar menunggu hasil bertani kopi yang lebih lama dibandingkan budidaya hortikultura.” Akibatnya, sering terjadi alih fungsi lahan kopi. Pemakaian insektisida dan herbisida hasil alihfungsi tadi juga memengaruhi kesuburan tanaman kopi. “Seperti di Rakalaba, tanahnya sudah tercemar karena terlalu banyak ditanami sayur.” Tantangan lain menghidupkan industri kopi di Bajawa datang dari alam. Banyaknya pohon penaung yang tumbuh semakin tinggi, menurutnya, perlu diganti.

Karena itu, Mama Lina berharap partisipasi kopi dalam Festival Inerie dapat membantu petani di Ngada menghadapi tantangan-tantangan tersebut di atas. Ia juga kepingin ada pendampingan dari pemerintah atau ahli untuk mengajarkan mereka tetek-bengek administrasi. “Sekarang pembeli makin banyak, tapi kami tak tahu cara membuat perjanjian kontrak.”

Keunikan kopi Bajawa

Bicara keunikan, kopi yang dihasilkan di tiga area berbeda di Ngada memiliki aroma dan rasa atau aftertaste tersendiri. Marselina Walu menjabarkan, kopi produksi kecamatan Golewa lebih dominan aroma bunganya, bunga melati dan mawar. Dari segi rasa, madunya juga dapat.

Kopi garapan lahan di Golewa Barat lebih dominan aroma dan rasa buahnya, ada anggur, lemon, dan jeruk. Sementara kopi olahan petani Bajawa dominan rasa cokelat.

“Tapi yang paling unik adalah aftertaste atau rasa yang tertinggal di kerongkongan bisa bertahan seharian.” Andaikata minum kopinya pagi hari, setelah makan dan minum air mineral pun, sampai sore nanti masih terasa.

Dibandingkan dengan kopi arabika lain di Indonesia pun, cita rasanya berbeda. Ia menyebut, Toraja misalnya, pasti yang terasa rempahnya. Kopi dari Sumatera lebih dominan aroma tembakau. Kopi Bali terasa manis buah dan aroma sitrus (jeruk, lemon, limau). Kalau di Jawa, kopinya kental dengan aroma pinus dan kayu-kayuan. “Karakter kopi kami beda sekali, penikmat kopi pasti tidak bisa ditipu.”

Kopi Bajawa juga menurut Marselina, enak disajikan dengan cara apa pun. “Mau diseduh dengan V60, aeropress, french press, maupun tubruk, semua enak. Manis dan lembutnya dapat.” Hanya saja, ia mewanti-wanti ekstraksi kopi Bajawa jangan dengan metode penyulingan. Menurutnya, kafein yang dihasilkan terlalu tinggi sehingga memicu reaksi jantung berdebar setelah diminum. (CG)

Menu