Kabar

Ka Sa’o, Syukuran Rumah Adat di Kampung Tololela

Matahari sudah meninggi pada Selasa (9/7) di Kampung Tololela, Desa Manubhara, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Angin berembus kencang. Di bawah dua tenda yang dipasang, berdiri panggung. Satu di depan bhaga, semacam lumbung mini, simbol perempuan dalam adat Bajawa. Satu lagi di atas sebuah kuburan batu dekat ngadhu , semacam tenda payung, simbol laki-laki. Di atas panggung, alat-alat musik berupa laba go, laba kagu, laba dera, dan gong ditabuh.

Bagi kebanyakan budaya, bermain musik di tempat peristirahatan leluhur dianggap tidak sopan. Demikian juga di Ngada. Namun hari itu menjadi perkecualian. Bertepatan dengan Festival Inerie, warga Tololela merayakan peresmian rumah adat Sao Lowa Zia milik anggota suku Dala.

Mereka telah meminta izin kepada keluarga pemilik kuburan untuk membangun panggung di atas makam. Termasuk melakukan ritual memberi sesajen kepada leluhur sebelum acara dimulai. “Leluhur kami orang periang, kalau kami mainkan musik, mereka pasti ikut menari di bawah sana,” Arnoldus Meka, staf pemasaran dan promosi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Ngada, meyakinkan.

Di sekeliling panggung, para perempuan dan laki-laki, tua-muda, mengenakan pakaian adat. Puluhan orang membentuk barisan. Para pria di deret terdepan menggenggam sauh (parang). Bukan pada gagangnya, melainkan di bilah parang yang tajam. “Laki-laki dewasa memang mengangkat parang seperti ini,” kata mereka. Di belakang, mengekor rombongan perempuan.

Ketika Plt. Bupati Ngada Paulus Soliwoa beserta rombongan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Tim Indonesiana, dan Dinparbud setempat tiba, berkumandang sa ngaza. Sa ngaza, semacam kata sambutan dari tamu, hanya disampaikan oleh tamu yang masih memiliki hubungan persaudaraan darah maupun pernikahan. Karena itu, mori padho (pemandu acara) biasanya akan menjelaskan identitas kerabat yang melakukan sa ngaza, hubungan kekerabatan mereka, dan maksud kedatangan, termasuk puji-pujian kepada mori ngalu (tuan rumah yang berpesta).

Setelah acara sa ngaza, musik dimainkan. Barisan tuan rumah menggiring tamu menari Ja’i mengitari ngadhu dan bhaga sebanyak tiga putaran (gili telu) untuk selanjutnya menuju tempat beristirahat dan menyantap makanan. Ada empat jenis daging yang disajikan saat tima ngoe (penerimaan tamu) hari itu, yakni ayam, babi, kerbau, dan anjing. Bersama nasi, daging disantap di atas wati (mangkuk dari anyaman bambu).

Perayaan Ka Sa’o hari pertama berlangsung hingga sore. Saat matahari terbenam, para wisatawan dan tamu undangan dipersilakan pulang. Sementara wai laki—tamu yang punya hubungan kekerabatan—mengikuti ritual theo bere (menerima hubungan keluarga).

Tradisi Leluhur

Tradisi ini merupakan peninggalan leluhur yang dulu datang selalu membawa bere (tas anyaman bambu) dan persembahan lain, seperti babi atau kerbau. Malamnya, keluarga yang rumahnya hendak diresmikan melanjutkan ritual theka wunu waru bersama lima pade (para tukang). Dalam ritual ini didaraskan syair-syair adat (soka/dhuga) tentang sejarah dan bagian rumah secara detail. Sesaji juga disediakan.

Darah hewan, biasanya ayam, dipercikan pada tungku induk (lika) dan peralatan penting rumah, seperti kada (wadah menyerupai bakul besar dari anyaman bambu yang digantung pada ruang inti). Kada adalah sarana penting dalam sebuah rumah adat karena sudah disucikan. Wadah ini berfungsi sebagai pengingat dan sumpah bagi anggota keluarga agar tidak melanggar aturan adat dan lupa pada rumah adatnya.

Puncak perayaan biasanya pada hari kedua, karena ada noza kaba atau ritual sembelih kerbau. Mamalia bertanduk itu diikat dengan tali yang terbentang antara ngadhu dan bhaga milik suku yang mengadakan pesta. Upacara adat selalu dimulai dari dalam rumah. Hari itu, Rabu, 10 Juli 2019 sekira pukul 06.00 WITA, ana sa’o (penghuni rumah) sudah menyiapkan sesaji. Para tetua, termasuk ketua suku dan para pria, serta perempuan penghuni rumah dipanggil masuk ke one lika, kamar tengah yang dipercaya sebagai ruang sakral. Di ruang berukuran 2,5 meter x 2,5 meter persegi itu, ritual toa kaba manu dilangsungkan.

Secara harafiah toa kaba manu berarti bunuh kerbau ayam. Tetapi menurut keterangan Kepala Suku Siga Dala, Philipus Dama, toa kaba manu adalah ritual yang menjadikan ayam sebagai simbol kerbau. Darah ayam, sebagai hewan terkecil dalam strata perbinatangan Ngada, dipercaya dapat menyucikan ritual pembantaian dan menjinakan hewan yang tingkatannya lebih tinggi, seperti babi, kerbau, dan kuda. Karena itu, sebelum menyembelih kurban, orang Bajawa selalu melumuri sauh dengan darah ayam. Di dalam rumah, perempuan pewaris rumah juga melumurkan darah manu ke empat penjuru one lika sebagai tanda menolak bala.

“Kami menyadari bahwa membunuh hewan itu salah. Jadi toa kaba manu juga wujud permohonan maaf dan terima kasih kepada kerbau yang akan menyerahkan dirinya dikurbankan untuk kami makan,” ujar Philipus. “Dilumuri itu juga untuk meminta kekuatan leluhur dari dalam rumah supaya sekali tebas langsung melumpuhkan kerbaunya.”

Sebelum kerbau kurban dilepas ikatannya dari ngadhu kae (tiang utama rumah adat untuk mengikat hewan milik suku yang mengadakan pesta Ka Sa’o), dahinya di-tobe telo (diceploki telur) dan bokongnya ditepuk wuluh (bambu yang sudah diisi air). Telur adalah perlengkapan ritual yang lebih kecil dibandingkan ayam. Diyakini, menceplokan telur ke muka kerbau dapat menyalurkan energi rendah hati telur dan memberikan kerbau itu ketenangan jiwa menuju alam baka. Kegiatan ini juga bermakna memohon kesejahteraan dan rezeki buat semua peternak di kampung.

Ketika menyaksikan noza kaba, warga biasanya diminta menjaga jarak dari kerbau yang hendak diparang. Sebab, tidak seperti di Madura yang kerbaunya sekali tebas langsung terkapar, di Bajawa kerbaunya masih bisa berlari keliling lapangan dengan leher setengah putus. Maka dari itu, penonton harus sigap menjauh agar terhindar dari cipratan darah kerbau kurban yang katanya bisa membawa malapateka jika mengenai manusia.

Setelah semua hewan kurban dipotong, dagingnya dibersihkan dan direbus. Selama itu, nasi juga dimasak. To maki atau to bhodo, nasi yang telah dimasak di atas tungku dalam jumlah banyak dikumpulkan dalam wadah khusus (bhodo) yang amat lebar. Perlu minimal dua orang untuk membentangkan bere raksasa itu dan mengangkatnya nanti setelah terisi nasi.

Ketika nasi dan daging kerbau matang, petugas terpilih yang disebut mori kopi bhai membagikan makanan, dimulai dari tuan rumah ke seluruh anggota keluarga, tamu undangan, dan akhirnya seluruh warga kampung Tololela. Acara makan besar ini dikenal sebagai ritual meghe, makan bersama sebagai ungkapan syukur.

Biasanya meghe diadakan di tengah kampung atau kisanata. Tikar atau alas bambu digelar dan seluruh warga desa duduk bersila menunggu pembagian jatah. Pembagian makanan terakhir khusus untuk para pekerja yang membantu terlaksananya pembangunan rumah sampai pesta syukuran. Tahap ini disebut liko ke’ba.

Ka Sa’o ditutup dengan dua upacara pembersihan, kela nio dan gare ta’i kaba. Kela nio diawali dengan membersihkan dan mendinginkan mata, khususnya para tukang pembuat rumah adat (mori pede/lima pede) dan semua orang yang terlibat dalam perayaan. Upacara ini juga sebagai sarana penguji apakah semua ritual sudah berjalan dengan sempurna dan sesuai ketentuan. Sementara Gare ta’i kaba ialah kegiatan bersih-bersih kampung yang diakhiri dengan mengucapkan terima kasih kepada semua peserta Ka Sa’o. (CG)

Menu