Kabar

Ritual Panjang Pembangunan Rumah Adat Ngada

Rumah adalah segalanya, tempat bernaung, bertumbuh, berlindung, bercengkerama, dan berkarya. Begitu penting arti sebuah rumah bagi orang Ngada hingga segala sesuatu ada ritual dan maknanya.

Philipus Dama, Kepala Suku Siga Dala, menyatakan, warga yang hendak membangun rumah harus meminta izin. “Semua harus berdasarkan musyawarah,” tegasnya. Ia mengambil contoh Sa’o Lowa Zia, rumah milik Rufina Dhone Dada yang diresmikan saat Festival Inerie.

Rumah tersebut sesungguhnya bukan baru, melainkan permohonan untuk renovasi karena usia bangunan sudah 20 tahun. Namun perbaikan dilakukan dengan merombak ulang rumah tersebut. Nah, saat memutuskan boleh atau tidaknya pembangunan, dari awal sudah minta petunjuk leluhur. Petunjuk dibaca melalui ritual maotua. “Mao” artinya petunjuk, dan “tua” dari kata “tuak” maksudnya moke, arak Flores. Selembar daun lontar atau teh ditaruh di dalam tempurung kelapa berwarna coklat, dituangkan moke, dan tempurung itu diputar. Kalau daun tehnya berputar ke kanan, pertanda disetujui. Kalau sebaliknya, berarti tidak disetujui.

Maotua ini juga akan jadi alat komunikasi antara anggota suku dan leluhur untuk menunjuk orang yang akan bertugas dalam persiapan dan pelaksanaan pembangunan rumah adat Ngada, termasuk tempat penyimpanan daging. “Enggak boleh diubah aturan ini. Salah-salah bisa kena sanksi supranatural dari leluhur. Pasti ada saja kejadian sesuatu,” ujar Philipus.

Arnoldus Meka, staf pemasaran dan promosi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ngada, mengatakan, pendirian rumah dimulai dari bhuai bhaiwili atau pertemuan awal untuk membicarakan kebutuhan materil rumah dan pembagian anggaran. Pembahasan ini sudah dilakukan jauh-jauh hari, bisa satu sampai dua tahun sebelum, agar uang bisa terkumpul dari sanak-saudara. Lalu diadakan zapa kolo, mengukur seberapa lebar rumah. Setelah itu, merituskan perangkat kerja untuk menebang kayu yang disebut basa mata taka.

Ketika menemui pohon yang hendak ditebang, penebang harus minta izin kepada penguasa langit dan bumi dengan melakukan lenga pu kacu. Seluruh upacara dipimpin ketua suku atau tetua yang dipercaya. Bahan baku nantinya dikumpulkan dan dicek bersama.

Bahan-bahan pembuatan rumah adat atau sa’o meliputi tiang atau penyangga dari kayu atau batu, bambu yang telah disusun sebagai papan untuk lantai, dan bambu untuk rangka atap rumah yang terdiri dari lado lewa (tiang nok), jara nook (rangka bubungan atap), bali redhi (siku penyangga rangka atap), soku dolu (balok huk), soku bhoda (bambu sebagai rangka dasar menyusun alang-alang), soku paja (bambu belahan untuk menyangkutkan alang-alang), dan poli/zo (balok yang mengapit di atas).

Setelah semua bahan terkumpul, ritual berlanjut ke pao kazu, tahap mentransportasikan semua bahan baku dari hutan ke lahan yang hendak didirikan bangunan. Setiba di kampung, mori ngalu (tuan rumah) harus mengucapkan selamat datang kepada bahan baku yang dipercaya punya roh.

Sebagai ungkapan syukur dan terima kasih, mori ngalu mengadakan ritual penyambutan phama karu kazu. Kemudian tore ngani, upacara membersihkan kayu-kayu dan bambu. Bhega veti, membuat ukiran. Lalu kobo uye, membentuk ruangan yang dikehendaki. Koro ngia, membersihkan lahan rumah yang akan dibangun. Selanjutnya lima pede (tukang) akan melakukan nuka kali leke, menggali lubang untuk menanam tiang dan meletakkan rumah di atas lahannya.

“Sebelum diletakkan di lahannya, rumah memang dirakit di tengah kampung dulu. Disusun dalam bentuk rumah tanpa alang-alang, buat alas, baru taruh di sini,” tutur Rufina menunjuk ke rumahnya yang dibangun dalam waktu tiga bulan itu.

Sesudah nuka kali leke, ritual berikutnya dilakukan saat membuat atap atau wakalotolewa. Kelak, untuk menentukan nama sa’o yang dibangun juga ada ritualnya. “Dulu nama rumah kami bukan Sa’o Lowa Zia,” kata Cornelis Nono (61), kakak laki-laki Rufina Dhone Dada. Namanya dulu Siga Zia. Siga artinya bersih. Nama itu menurut Cornelis kurang bagus, karena dapat dimaknai sebagai pemusnahan terhadap manusia. Namanya kemudian diganti pada 1983 menjadi Sa’o Lowa Zia, yang artinya bertumbuh dan berkembang.

Ketika seluruh bagian rumah telah jadi, pemilik rumah wajib menggelar syukuran (Ka Sa’o). Sewaktu Festival Inerie, Ka Sa’o digelar selama tiga hari, melingkupi tahap persiapan sampai pelaksanaan. Jika rumah sudah diritualkan, tugas terakhir adalah memasang meko. Meko terbagi dua jenis, yakni Ana Ie atau rumah mini di tengah atap dan Ata atau patung manusia. Ana Ie secara harafiah berarti ringkikan anak kuda, lambang ibu suci dan setia. Rumah mini ini disebut Sa’o Saka Pu’u sebagai simbol perempuan, istri, dan ibu. Sedangkan Ata yang menyerupai patung anak laki-laki dililit tali ijuk disebut Sa’o Saka Lobo, simbol pria, suami, dan ayah.

Semua ritual itu tampak rumit dan membuang uang. Kalau ditotal, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai lebih dari Rp1 miliar untuk membangun satu rumah adat, dari awal sampai akhir. Untuk kurban saja, harga babi kurban mencapai 2,5 sampai 5 juta rupiah per ekor, dan kerbau di Bajawa berkisar 5-20 juta rupiah per ekor.

Namun bagi mereka, rumah adat tidak bisa seperti rumah lain yang dibangun di luar kampung. Bahan-bahannya diambil dari alam. Kayu, bambu, rotan, juga makhluk hidup. Mereka punya jiwa yang tidak bisa hilang hanya karena ditebang. Maka roh itu harus disambut dengan semestinya, sebab mereka juga yang akan menjaga rumah dan para penghuninya dari generasi ke generasi. (CG)

Menu