Kabar

Kediri, Tan Khoen Swie, Ki Padmosusastro

Dalam Festival Panji 2019 yang bertema “Transformasi Budaya Panji”, Kediri menjadi salah satu tuan rumah selain Malang dan Blitar. Memang, kota Kediri identik dengan kisah Panji dan memiliki tradisi literasi yang panjang.

Pada 1920, misalnya, dari kota ini terbit Surat Kabar Sri Djojobojo. Namun yang paling melegenda dalam urusan literasi ini adalah Boekhandel Tan Khoen Swie. Buku-buku keluaran penerbit ini banyak menyebarluaskan hasil karya sastra Jawa modern pra-kemerdekaan dan ikut memperluas tradisi sastra Jawa yang mulai berkembang masa itu, setelah dirintis oleh Ranggawarsita dan C.F. Winter di Solo pada awal paruh akhir abad ke-19. Versi-versi awal Serat Kalatidha (Ronggowarsito) dan Serat Wedhatama (Mangkunegoro IV) disebarluaskan melalui penerbit ini.

Lahir tahun 1883 di Wonogiri dari keluarga Tionghoa, Tan Khoen Swie pernah menjadi murid Mas Ngabehi Mangoenwidjojo, ahli sastra Jawa di kota kelahirannya Wonogiri. Ketika muda, dia berkerja di Sie Dhian Printing House, Solo. Di kota inilah Tan berkenalan dan bersahabat akrab dengan Ki Padmosusastro, yang dianggap sebagai bapak sastra Jawa modern.

Setelah pindah ke Kediri, pada 1915 Tan mendirikan penerbitan dan toko buku sendiri dengan nama Boekhandel Tan Khoen Swie, lebih awal daripada Balai Pustaka yang diusahakan oleh pemerintah Belanda. Keakrabannya dengan literatur Jawa menjadikan Tan Khoen Swie sangat tertarik dengan mistik Jawa. Ia, misalnya, berteman dekat dengan Tan Tik Sioe Sian atau Rama Moerti, seorang mistikus yang dikenal luas.

Buku-buku yang diterbitkan Tan kebanyakan merupakan literatur tentang kebatinan, ramalan, primbon, legenda, dan filsafat. Misalnya, Kitab Horoscoop, Kitab Rama Krisna, Kekoeatan Pikiran, Kitab Ramalan dan Ilmu Pirasat Manusia, Kitab Achli Noedjoem, serta Alamat Ngimpi dan Artinja. Pada masa itu, buku-buku demikian banyak diminati masyarakat Indonesia. Buku-buku itu diterbitkan pada 1919 hingga 1956. Padmosusastro berperan menjadi semacam “dewan redaksi” bagi penerbitan Tan Khoen Swie. Karya Padmosusastro juga diterbikan oleh Tan.

Teks lain yang diterbitkan, misalnya, Serat Pramanasiddhi tentang Raja Jayabaya dari Kediri, Serat Siti Jenar (1922) tentang makrifat Sunan Kalijaga, Serat Dewaroetji (1928), Serat Gatolotjo (1931), Serat Kebo Kenaga (1921), Serat Soeloek Walisongo (1931), Serat Jaka Lodhang (1941), Serat Kalatidha (1941), Serat Wirid Sopanalaya (1941), dan buku-buku lain yang jumlahnya sekitar 279 di masa pra-Balai Pustaka.

Pujangga-pujangga terkenal Jawa seperti Ronggowarsito, Yosodipuro, dan Ki Padmosusastro, tak pelak, terdongkrak namanya karena Tan Khoen Swie. Tanpa Tan, kemungkinan karya-karya besar mereka tak bakalan dikenal masyarakat luas.

Hingga 1940-an Tan Khoen Swie masih menjadi lokomotif penerbitan buku di Indonesia. Dia bahkan berhasil memperluas tempat usahanya yang berlokasi di Jalan Dhoho 147, Kediri, dengan mendirikan “Toko Soerabaia”, semacam toko kelontong. Bahkan di Solo didirikan perwakilan Boekhandel Tan Khoen Swie.

Tan dan Padmosusastro

Dalam konteks loci pendidikan humaniora masyarakat Jawa tradisional, persahabatan Tan dengan Padmosusastro memiliki arti penting, yakni merembesnya literatur keraton dari istana. Menurut sejarawan Kuntowijoyo (1987), dalam masyarakat Jawa tradisional terdapat tiga loci pendididikan. Pertama keraton, kedua pesantren, dan ketiga perguruan-perguruan di desa-desa.

Dalam masyarakat Jawa tradisional yang masih agraris dan feodal, keraton atau istana merupakan pusat penciptaan simbol-simbol, norma-norma, serta ajaran-ajaran di berbagai bidang. Perembesan literatur keluar istana biasanya dilakukan oleh abdi dalem.

Padmosusastro adalah nama yang tidak asing lagi dalam dunia sastra Jawa. Dia sering disebut sebagai tiyang mardika ingkang marsudi kasusastran Jawi ing Surakarta (orang merdeka yang menekuni kesusastraan Jawa di Surakarta). Berlainan dengan Yosodipuro I, Yosodipuro II, Ronggowarsito, atau empu-empu lainnya, Ki Padmosusastro bukanlah seorang pujangga. Dia hanya seorang abdi dalem keraton Surakarta. Namun demikian, kegiatannya dalam dunia sastra tidak kalah dibandingkan dengan pujangga-pujangga lain. Kegemaran menulis membuat dirinya terangkat menduduki jabatanpada pemerintahan keraton Solo.

Lahir dengan nama Suwardi di Kampung Sraten, Surakarta, 20 April 1843, putra Ki Ngabehi Bangsayuda ini mulai belajar membaca dan menulis sejak berusia 6 tahun. Pada usia sekitar 43 tahun, Padmosusastro memperdalam ilmu kesusastraannya, dengan menerbitkan Djawi Kandha (+1886) di Solo. Mulai saat itulah lahir karya-karyanya, dan namanya berganti menjadi Ki Padmosusastro.

Ki Padmosusastro termasuk orang yang tekun. Pergaulannya dengan orang-orang istana, termasuk C.F. Winter, Roorda, dan Ronggowarsita sebagai gurunya, membuat pandangan hidupnya menjadi sangat luas. Bahkan, seorang pejabat pemerintah Belanda yang mengurusi pendidikan pribumi, H.A. De Nooy menjadi kagum atas kepandaiannya, sehingga membawanya ke negeri Belanda. Selama di Negeri Belanda Ki Padmosusastro berhasil menulis Serat Woordenlijst dan Urapsari.

Ki Padmosusastro kemudian dipercaya sebagai pemimpin Museum Radyapustaka, dan namanya diubah menjadi Ngabehi Wirapustaka. Ketika dipercaya sebagai kepala museum keraton Solo inilah sahabat Ki Padmosusastro, Tan Khoen Swie, banyak mendapat akses pada literatur keraton. Sayang, setelah Tan meninggal pada 1953, Boekhandel Tan Khoen Swie tidak terurus dan akhirnya tutup tahun 1962. (CG)

Menu